Pages

Pudarnya Kemilau Perak Di Batua - Makassar




Assalamu alaikum….assalamu alaikum
(sahut kami dari luar pagar, setelah sekitar 3 menit terdengar sahutan)
“oh iya ada apa nak?”
“Bisa kami mewancarai bapak selaku pengrajin….?”
“oh iya tunggu sebentar”


Tampaknya kedatangan kami di suatu sore sekitar pukul 15:50 WITA tanggal 16/3/2015 itu “mengganggu” istirahat siang-sore bapak ini. Ini terlihat ketika raut muka bapak tersebut nampak, sepertinya beliau terbangun dari istirahat siang-sorenya. Konsekuensi bagi kami ya pastilah kena tegur. Tetapi setelah sahutan hangat itu kami dengar, legalah dugaan marah tersebut menjadi semangat optimistik kembali.

Setelah itu dibukakannya kami pagar, dipersilahkannya kami masuk dan duduk di teras. Kamipun mulai memperkenalkan diri dan tujuan kedatangan kami, beliau memperhatikan dengan seksama. Sempat kami berpikir akan mengeluarkan kertas “sakti” (kertas surat keterangan penelitian) kalau saja beliau masih meragukan atau was-was dua orang tak dikenalnya sekarang duduk di terasnya. Tetapi belum sempat kami mengeluarkan kertas, beliau menawarkan untuk masuk ke workshop dan melakukan aktivitas wawancara sekaligus melihat proses pembuatannya.


Peneliti Diperlakukan

Sebelumnya, bagi warga kota pada umumnya, rasa was-was, curigaan, sambutan dingin atau sampai pura-pura tidak mendengar ada orang menyaut di depan pagarnya adalah hal yang biasa. Saya tidak mengetahui apakah ini watak/kebiasaan orang kota dalam melihat sinisnya manusia baru yang dikenalnya ataukah sebuah sikap yang ingin memproteksi dari kejahatan-kejahatan perkotaan yang marak terjadi. Ataukah memang di kota Makassar kepercayaan dan kohesi sosial sudah sangat renggangnya.

Bagi periset lapangan pastilah hal ini (awal mengintroduksi diri pada orang yang baru) mempunyai seninya tersendiri yaitu teknik – pendekatan yang digunakan yang sangat situasional. Tidak jarang saya dikira peminta sumbangan, ada juga suatu waktu saya di-introgasi layaknya tahanan. Tapi tak apalah, ini memang yang harus dijalani. Inilah proses dan seninya, memperkenalkan diri membangun kepercayaan/trust building kepada narasumber. Ditolakpun buka suatu kata yang tabu dan baru.


Melanjutkan Interview

Tetapi keramahan bapak ini sesuatu, mungkin karena beliau sudah terbiasa ketemu dengan orang baru atau yang menjadi pelanggannya atau memang pembawaan/karakter yang terbuka/open sejak dulu. Citra yang pertama dari bapak ini menurut kami sangat kooperatif. Biasanya orang yang tidak kooperatif walaupun penuh skill/skillful apalagi di tambah ciri khas “koro-koroang” akan mendapati rejeki dan relasi yang terisolasi.

Sambil menyelesaikan pesanan perahu pinisi dari perak, kami dipersilahkan untuk bertanya dan mengamati. Wawancarapun berjalan mulus di dalam workshop ukuran sekitar 3 x 3 meter beralamat Jl. Borong Dalam RW 2 Batua.

Nama bapak ini ialah Makmur Dg. Serang. Beliau telah menjadi pengrajin perak sejak tahun 1975. “Sekitar tahun itu (1970an) boleh dikata 80% penduduk sini pengrajin emas dan perak. Semenjak krisis ekonomi dan turunnya Soeharto pengrajin mulai berkurang” kata Dg. Serang. Umur beliau sekarang 50an tahun, dapat dikatakan sebelum menginjak usia 20 tahun beliau telah menjadi pengrajin perak.

Beliau menjelaskan bahwa alat produksinya merupakan warisan dari pamannya/om seperti pompa, pipa dan gilingan. “Lebih dulu dari alat ini, dulu bukan pompa yang dipakai untuk menyolder tetapi ditiup pake timburung. Oleh karenanya setiap mau buat harus pake nafas panjang dulu” kelakarnya. “Dulu juga tidak pakai gilingan seperti ini (sambil menunjuk peralatan) tetapi dipakai palu-palu untuk menggepengkan perak. Dulu juga untuk kasi memanjang perak ditarik-tarik saja” kata Dg. Serang. Alih teknologi yang terjadi yaitu dari alat yang ditiup menjadi pompa untuk menyolder dengan bahan bakar bensin, palu-palu menjadi gilingan untuk menggepengkan perak dan terdapat alat untuk memanjangkan perak. Alih Teknologi yang sejak tahun 1970an – 1980an ini bagi Dg. Serang sudah mentok sampai disitu, tak ada kebaruan lagi.

Seingat beliau masa ke-perak-an dan ke-emas-an itu awal tahun 1990an. Mengapa dikatakan masa keperakan dan keemasan yaitu ditahun tersebut  banyak pesanan, oleh karenanya banyak pengrajin dan pengrajin dapat mengerjakan baik perak maupun emas. “Karena rame-ramenya masa itu terdapat perkumpulan walaupun tidak ada namanya. Saking banyaknya kerja dulu enak rame, tidak dirasa sampai larut malam” romantisme Dg. Serang.

Setahunya pengrajin perak di daerah ini (Borong Dalam RW 1-2, Batua) sekarang sekitar 10 orang. Tetapi jumlah pengraji emas lebih dari itu. Pengrajin emas biasanya mengerjakan produk kerajinan seperti cincin, giwang, bros dll. “Kendalanya kalo kerja emas harus mempunyai modal, kalo tidak punyya pilihannya kerja di Toko. Sekarang banyak yang kerja di Toko”, kata Dg. Serang.

Produk kerajinan yang dikerjakan Dg. Serang yaitu perahu pinisi dan rumah adat Tanah Toraja (walaupun kami melihat mirip dengan model rumah Bugis-Makassar) berbahan dasar perak. Untuk proses pengerjaannya dilakukan satu persatu (ekor, badan, layar dll) kemudian di rakit. Untuk membedakan produknya dengan produk lain, terdapat motif bunga dalam pinisi  yang disebut “kandaria”. Uniknya, kandaria ini mayoritas dibuat oleh perempuan. Dg. Serang menuturkan “dulu ada juga yang kerja perak dari Pulau Barrang Lompo dengan motif yang berbeda. Sekarang mungkin sudah tidak ada”.

Relasi Produksi

Relasi produksi dan pemasaran Dg. Serang bekerjasama dengan beberapa toko di Somba Opu dan Sulawesi. Untuk mensiasati kurangnya modal dan minimnya jangkauan pemasaran terbentuklah relasi produksi dan pemasaran tersebut. Pihak Toko memberikan bahan baku perak dan pemesanan. Dg. Serang bertindak sebagai penyuplai barang atau lebih mirip untuk istilah “tukang”.

Relasi Bos – Tukang ini merupakan relasi mutualisme dari situasi faktual yang dialami. Jika mendanai sendiri dan kemudian hanya dipajang di rumah sambil menunggu pembeli, putaran ekonomi Dg. Serang akan melambat bisa saja macet dan tidak bergairah. Sedangkan bagi pihak Bos – Toko mempunyai beberapa pilihan pengrajin. Tentunya market Toko lebih plural dan terbuka karena didatangi oleh pembeli (baik wisman – domestik).

Relasi ini dijaga baik oleh Dg. Serang karena pemesanan dari toko cukup rutin. Sewaktu kami mewawancarai, beliau sedang mengerjakan pesanan 15 buah miniatur pinisi yang berdimensi 30 cm dengan berat 140 gram/biji. Harga perak /gram sekarang ini disekitaran Rp.12 ribu – 13 ribu/gram. Jadi jika kita menghitung ongkos produksi dari bahan baku saja untuk menghasilkan satu produk miniatur pinisi dengan berat 140 gram dibutuhkan modal sebesar Rp.1,6 juta – Rp.1,8 juta. Berarti untuk pemesanan 15 buah dibutuhkan modal Rp.24 juta – Rp.27 juta. Dan ingat, itu baru bahan baku peraknya saja ! Untuk pemesanan jumlah banyak Beliau dapat memperkerjakan tukang lainnya yang berada di sekitaran rumah, tetapi itu kalau ada pesanan banyak.

Bagi sebagian orang khususnya penganut pengambilan nilai lebih/surplus value akan berkoar-koar meilihat narasi ini. Tetapi sabar dulu kawan, duduk ditempat dengan tenang, karena fakta dilapangan memang keras. Orang-orang harus bertahan hidup, menghidupi keluarganya dan tidak bisa mengilusi diri kemakmuran akan sampai cepat dimeja makan sambil berdiskusi tentang kerja. Seperti kalimat dalam novel Daniel Quinn “setiap orang punya teorinya sendiri-sendiri. Dunia dibuat untuk manusia bukan untuk ubur-ubur”. Ingat, ini bukan teorinya yang salah, tetapi kita melihat respon manusia atas keadaan faktual/realitasnya.

Tetapi tidak hanya dari Toko, Dg. Serang juga menerima pesanan dari pelanggan yang datang langsung ke rumahnya. Biasanya polanya sama dengan Toko, ada pelanggan yang memberikan bahan baku atau pola yang berbeda panjar dulu, bahan baku diadakan oleh pengrajin dan nanti lunas. Tentunya pola terakhir itu mengandung risks yang cukup besar bagi pengrajin yang harus berhubungan dengan pelanggan apalagi pelanggan baru. “Semenjak zaman batu ini (batu cincin) pesanan juga banyak yang ingin mengikat batunya dalam bentuk cincin berbahan dasar perak. Kelebihan bahan perak tidak membuat alergi tetapi harganya berkali lipat dari titanium” ucap Dg. Serang.

Disini kita melihat adanya segmentasi pasar yang berbeda. Untuk Toko mereka kedatangan pembeli yang mungkin dalam beberapa situasi tertentu seperti ingin cepat, mengejar pesawat di bandara, sedang jalan-jalan di sekitar pantai losari dan sebagainya. Sedangkan pelanggan yang datang langsung ke rumah beliau merupakan pembeli/pelanggan yang memang “niat banget” dan tahu alamat Dg. Serang. Kedua segmen pembeli ini merupakan dua kategori yang berbeda.



Nasional ke lokal

Bagi sebagian kita mungkin belum pernah mendengar informasi di atas bahwa daerah Borong Dalam – Batua dulunya merupakan sentra kerajinan Perak dan Emas. Mungkin sekali lagi mungkin tidak ada imajinasi kita tentang daerah di Makassar yang berbasis kerajinan. Mungkin akrab bagi kita dan sejarah kota yang berkembang dari kota pelabuhan yang biasanya minim sekali produsen tingkat satu hadir di kerumunan karena kerumunan mayoritas terisi oleh kaum broker, reseller ataupun enduser.

Coba pejamkan mata, singkirkan ingatan Makassar yang ada dikepala kita (macet, koro-koroang, berdebu, tidak sabaran, menorobos lampu merah, tidak mau diatur, borro dll) dan coba membayangkan Makassar jadi kota kerajinan. Maka timbul sesuatu yang baru. Pengrajin identik dengan orang yang sabar (susah menjadi pengrajin jika “kajili-jili”), menghargai detil serta karya, tidak ambisius, fokus, telaten, pola kerja manusiawi dan sebagainya. Nah, ini Makassar atau kota di Jawa ?, ternyata kita juga punya disini walaupun narasinya minor.

Oke stop khayalannya, karena saya tidak hendak mengajak anda terlalu lama menghayal.

Lanjut ke nasional, sebagian dari kita mungkin sudah tau ada sentra kerajinan perak di Kota Gede – Yogyakarta, Desa Batan Krajan – Mojokerto, Desa Celuk di Bali yang hasil produksinya sudah mengglobal (ke Eropa, Asia Timur dan sebagainya). Khususnya dua kota yang saya sebutkan yaitu Jogja dan Bali, pengrajin mereka beruntung karena daerahnya dibanjiri dengan wisatawan asing maupun domestik yang memilih berlibur baik dalam waktu yang lama ataupun singkat, atau juga para pelajar dari berbagai daerah. Ketersambungan produk mereka dengan pembeli luar daerah dan luar negeri berada dalam range yang dekat karena sentra kerajinan mereka didatangi oleh pembeli. Nah bagaimana dengan yang tidak di datangi ?, jawab sendiri.


Di Kendari - Sulawesi Tenggara kita juga tau ada motif perak Werk yang telah melegenda. Nah di Makassar ini kita juga punya, tugas selanjutnya bagaimana mengoptimalisasi hal ini ?. Langkah pertama yaitu kita harus tau dan perduli dulu bahwa kita punya pengrajin perak yang tidak kalah bagusnya dengan daerah lain.

Untuk data pengrajin lain (baik perak, logam dll) juga terdapat di Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah). Tidak ada kata lain selain menambah kuantitas dan kualitas pengrajin tentunya dengan adanya pembeli/pelanggan yang semakin rame. Lantas bagaimana meramaikan pelanggan ? ya masing-masing kita pasti sudah tau bagaimana masalahnya dan jawabannya sesuai peran dan posisi kita masing-masing. Misalnya siapa tau ada diantara pembaca yang suka terlibat di acara lovely Toraja bisa membawa produk beliau dan pengrajin lainnya ke acara tersebut. Permisalan tersebut mengandalkan pola kehadiran middle-man atau intermediary. Sudut stakeholders, sistem pendukung, pemerhati, akademisi dan lain-lain mohon dieksplore sendiri.


Sebagai bisik-bisik aja nih, gapura sentra kerajinan perak di pintu masuk daerah Kota Gede itu diadakan memakai dana CSR Bank BPD Yogyakarta pada 2009 lalu. Nah, kali-kali aja, ada diantara para pembaca yang bisa mencolek-colek pihak serupa di kota ini. Usul mengenai pelabelan kawasan sebenarnya juga mengandung masalah, sentra pengrajin perak sementara di dalamnya hanya terdapat sekitar 10 orang atau mungkin tidak sampai 5-10% populasi daerah itu. Tetapi tak mengapa, barangkali bisa memberikan multi efek baik yang berada di dalam maupun di luar  kawasan. Dan mengundang orang untuk kota Makassar sendiri yang ingin memesan souvenir ke pengrajinnya langsung sesuai dengan kebutuhannya.


Emas 1 kg

Sebelum saya mengakhiri, ada suatu cerita menarik lagi oleh Dg. Serang. Sewaktu Dg. Serang masih muda (lupa persis tahunnya), beliau dan omnya mengerjakan perahu pinisi yang terbuat dari ˃ 1 kg emas dengan dimensi panjang perahu 60 cm. Miniatur Pnisi dari emas tersebut dipesan oleh pemerintah (tetapi beliau tidak tahu pasti pihak pemerintah yang mana) dan diberikan kepadaa Soeharto ketika mengunjungi kota ini. Harga dulunya (ketika pinisi dikerjakan) per 1 gram emas 24 sebesar Rp. 23 ribu sekarang mencapai Rp.  500 ribu/gram. Nah jika 1 kg berapa harga sekarangnya ? ayo tebak.

Dalam termin populernya model seperti ini dapat disebut cinderamata atau hadiah tetapi dalam bentuk feodalnya kita menyebutnya upeti raja daerah/periperi untuk raja pusat/core. Sebuah praktek kekuasaan ekonomi politik membudaya atau setidaknya menjadi kebiasaan.

Kisah Sekitar

Terlepas dari cerita feodal itu, kita harus berbangga mempunyai pengrajin. Disela akhir wawancara kami, terselip rasa bahagia karena Dg. Serang telah mewarisi “ilmunya” kepada anak pertama dan ketiga.

Sulit dibayangkan jika pengrajin/manusia-manusia kreatif hilang, mayoritas beralih profesi ke pekerja kantoran yang pangsa pasar kerja di kota ini semakin kecil dan berjejalan di sektor jasa saja. Dan bagaimanapula manusia kreatif bisa muncul dan bertambah jika kota terlampau monoton dan serupa. Ekonomi kreatif bisa muncul dari manusia kreatif, selain itu jika polanya masih model relasi kantoran sama saja dengan ekonomi konvensional.

Cerita semacam ini agak sulit kita temui di media mainstream (seperti koran, TV lokal, berita digital dll) yang biasanya menjejali publik dengan informasi miris seputar praktek politik elektoral, perilaku birokrat, konflik Polri – KPK, kenakalan remaja, street crime, asusila ataupun berita sensional ala selebritis. Cerita ini diproduksi disekeliling kita, harus hirau saja dengan sekitar kita. Harapan tulisan ini sederhana, agar perak tetap berkilau dan tak redup digilas jaman dan perkembangan kota yang diluar kendali. Perak berkilaulah!!







 
 
 (foto kerajinan miniatur perahu dari perak yang telah jadi)


 Key words: Perak/silver, pengrajin/craftsman, Makassar 




Sekat




Mengendap menyelinap
membawa partisi memetakan
membangun ruang
memberikan sekat-sekat
terperanjat

tanpa bunyi, terbuat batas-batas
menyambung partisi membentuk ruang-ruang
interpretasi dan nalar yang terfilter oleh sekat

layaknya lembaga sensor yang tak urung usur
menolak perihal macam-macam
membungkuk patuh
walaupun tanpa komando

lari mengejar membuat letih
apalagi dihambat oleh sangka-sangka
kumpulan fakta dengan olahan usang
seperti bunyi gong di tebing
memantul tak karuan

Mengherankan !! beberapa mata terbelalak
dikiranya lari lurus kedepan
tak taunya hanya berlari dalam lintasan
berputar-putar disitu-situ saja

setelah menerka dengan gerak diam
barulah sekat-sekat menghadapi induknya
subjek pararel dengan hasratnya
metamorfosa gagal

berpalsu dengan gincu
merona dengan pewarna
berbahagia dengan sendu
memantul dengan rasa-rasa

sekat menggambar langit
membahas semesta
tanpa menginjak bumi

berjejal sekat,,sekarat




         Makassar, 7 februari 2015
10.15 pm







Tentang Manado dan Sekitarnya


Di saat reportase Manado pada umumnya hanya berkisah fenomena wanita dan hotpants, kali ini akan bercerita tentang hal lainnya. Sambil mengisi blog yang cukup lama hibernasi.

Kuliner
Tinutuan
Pisang Goroho – dabu-dabu roa
dabu-dabu bakasang (perut ikan mentah-jemur)
Gohu (papaya-nenas)
Milu (Jagung) Bakar  Ring Road
Milu (Jagung) siram
Binte
Ilabulo
Sarabba
Cap Tikus, Saguer (Cap tikus yang belum diolah/disuling)
Gorengan (pisang, tahu, batata, tempe (tapi jarang)) – Malalayang & Pierre Tendean
Rw (anjing), Ba - Tinoransak (Babi), Paniki (kelelawar),
Loba (Bakso Babi)
Baso/Bakso
Malabar - Martabak
Nasi Kuning Komo, Nasi Kuning Saroja
Sate Kolombi (daerah Tondano)
Cakalang Fufu
Hercules (mirip klapertart tapi minus kelapa)
Klapertart
Kukis Basah (koyabu, nogosari, lemet, lampu-lampu, lopes)
Biapong Ba (Biapong isi babi)
Perkedel Nike dan Milu
Nasi Jaha/Bulu
Ikan Woku
Sayur Gedi/yondok
Ikan Garam, Ikan Putih
Buah Matoa
Warung Kopi - Bubur ayam Jarod (Jalan Roda)


 

Walaupun daftar diatas belum lengkap tetapi setidaknya telah menyebutkan mayoritas kuliner populer di Manado. Bahan dasar kuliner banyak yang dari jagung, pisang, ikan. Jika di daerah lain di Indonesia minim sekali terdengar kuliner Babi dan sebagainya beda hal di Manado, justru makanan seperti dengan mudah kita jumpai dengan variasi masakan (bakso, sate, rica-rica). Untuk sate kolombi (tude sawah) hanya anda dapatkan di Tondano.


Kuliner di daerah Manado dan Minahasa lainnya erat dengan makan ber-rica (cabai/lombok). Warga Manado dan sekitarnya menyenangi makanan yang serba pedis (bahkan di sayuran di tambahi rica). Ini membedakan dengan kuliner yang berada di samping Provinsi Sulut yaitu Gorontalo yang serba berminyak. Tidak heran penyakit maag merupakan penyakit populer di masyarakat yang biasanya di kota lain penyakit ini hanya dimiliki oleh mahasiswa pas-pasan. Dan tidak heran pula kalau masyarakat Manado yang gemar marah-marah/bafeto mengeluarkan kata-kata yang pedis pula.



Untuk minuman, miras tradisional Cap Tikus Minahasa adalah jagoannya. Minuman ini sudah menggelegar seantero nusantara dengan asal daerah minahasa. Bir Bintang juga laris manis di provinsi ini seiring kegemaran mabuk segala usia dan gender. Berbelanja dan mabuk adalah dua kata yang sulit dipisahkan di daerah ini. Pria bertato juga mudah ditemui. Bahkan disore hari menjelang malam Natal penulis menemukan seorang pemuda yang tengah baring-baring di jalanan sambil baveto (marah-marah) dalam keadaan mabuk. Tetapi tenang tidak semua masyarakat doyan mabuk kok. Untuk kegemaran mabuk ada cerita lucu dari warga :


Di Suatu Pagi
Alo : Jonathan ada oma ?
oma : nyanda ada,
Alo : Alex ada oma ?
oma : nyanda ada,
Alo : Samuel ada oma ?
oma : nyanda ada,
Alo : kiapa dorang samua nyanda ada oma ? kmana dorang?
oma : ooo klo so dekat hari raya bagini sampai tahun baru dorang nyanda tidor di rumah, dorang samua tidur di got

----- ****-------


Tempat nongkrong terbilang sedikit dan kebanyakan terkonsentrasi dalam kawasan Mall sebutlah seperti KFC dan McDonald yang berada dalam kawasan Megamas. Kedua tempat tersebut merupakan primadona muda-mudi dan orang tua pencari mudi-mudi di kota Manado. Jika ingin mencari tongkrongan yang ditemani pengamen dengan lagu-lagu update dan hits (Barat-Indonesia) sambil memakan gorengan anda dapat ke warung-warung sebelah jembatan mantos.


Tapi pernah sekali penulis nongkrong bersama 3 rekan di tempat itu dengan total bill/pembayaran Rp.70 ribuan (cukup banyak bila dibandingkan nongkrong di Goeboex café, ataupun Legend café di Jogja), salah satu warung makan disitu tampaknya tidak siap dengan tamu yang duduk dengan durasi 3 jam. Para penjual beserta crew tampaknya terbiasa dengan pelanggan berdurasi singkat (ya palingan sejamlah) agar putaran uang cepat dengan silih bergantinya pelanggan di kursi. Laptop yang tadinya tercharger tiba-tiba listrik di colokannya off. Mungkin penulis yang lagi sial atau para crew yang tidak terbiasa menerima tamu lama-lama, tidak seperti café-café atau warung-warung di kota besar lainnya tamu adalah tamu betapapun minimnya pembayaran dan lamanya durasi duduk.


Tampak gambar warung pinggir jalan yang berjualan gorengan




Bagi para pencinta kopi dan yang suka berbicara panjang X lebar tanpa henti (orang manado menyebutnya Lamu (lalah mulu)) kunjungilah jejeran warkop di Jarod (Jalan Roda). Di dalam gang ini dari sudut gang satu ke sudut gang lain terdapat barisan kursi dan meja serta penjual yang siap melayani pelanggan. Para backpackers yang ingin menikmati wacana perkotaan mulai dari harga sewa ekskavator, harga tanah, gosip aparat pemerintah sampai informasi batu-batu (kecuali batu ginjal dan empedu) dengan jajanan terjangkau (murah) wajib mengunjungi tempat ini.



Bahkan dari carlota (istilah orang Manado buat yang gemar ngomong – gosip) di tempat ini terkuak fenomena pendidikan yang cukup mencengangkan bagi orang baru dan cukup biasa bagi orang setempat yaitu kebiasaan para murid (tingkat siswa SD - mahasiswa) untuk memberikan “sesuatu” kepada tenaga pengajar serta perangkat yang lain dan kebiasan para tenaga ajar untuk meminta “sesuatu” dari para peserta didiknya. Kota terpanas untuk fenomena gratifikasi dalam dunia pendidikan.


Tampak gambar keramaian di jejeran Warkop di Jarod




Untuk nasi kuning backpackers tidak boleh melewatkan kuliner nasi kuning komo. Harga murah (Rp.7 ribuan) dan berbagai menu tambahan lainnya (berbagai macam sate, telur, gorengan dll). Ingat guys kuliner naskun komo ini hanya tersedia pada malam hari saja.  



Untuk kuliner Martabak – Malabar di kota Manado di monopoli oleh Martabak – Malabar Mas Narto dengan mempunyai kurang lebih 15 gerobak tersebar dipenjuru strategis kota Manado. Di kota lain biasanya Martabak disebut terang bulan dan Malabar disebut Martabak, tetapi di kota Manado, Martabak biasanya sebutan untuk Terang Bulan sedangkan Malabar untuk Martabak (jadi jangan salah sebut guys).



Untuk harga makanan jenis ini, harga di Manado terbilang tinggi (> Rp.20 ribuan). Harga tersebut karena supplai masih sedikit, tingkat persaingan penjual yang tidak tinggi sehingga harga dasar distandarkan oleh penjual terbanyak. Para backpackers pas-pasan yang ingin mencari terang bulan dan martabak harga Rp.15 ribuan anda diharuskan ke jalan Malalayang, terdapat beberapa gerobak disana yang menyelamatkan kota Manado dari harga > Rp.20 ribuan untuk kuliner yang satu ini.



Jika di kota-kota lain harga Rp.15 ribuan untuk kuliner ini mudah ditemukan beda halnya dengan di pusat Kota Manado. Begitu juga dengan Bakso dan Sari Laut. Harga bakso-pun untuk beberapa tempat cukup tinggi (> Rp.20 ribuan) begitu juga dengan ayam lalapan (> Rp.20ribuan) dengan kondisi yang sama yaitu kurangnya penjual dan sebagian alasan mahalnya uang sewa penjual. Jadi jangan heran banyak masyarakat kota ini gemar makan di KFC dan sebagainya, salah satu penyebabnya harga lalalapan dan harga ayam2an KFC dll harganya beda tipis bahkan sama.



Berdasarkan sedikit cerita diatas jika anda merencanakan untuk berlibur dan berlama-lama di Manado bersiaplah merogoh kocek lebih dalam. Tidak heran Upah Minimum Provinsi ini cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya karena tingkat harga yang tinggi pula.



Untuk transportasi mikrolet (sebutan disini: mikro, untuk berhenti bilang: muka om) menyediakan suplai yang cukup dengan harga terkini (Rp.3.500-4.000) yang tersedia sampai larut malam (jam 12malam) dengan dentuman musik yang terkadang bikin pongo/sakit telinga. Transportasi mikro ini bisa diandalkan karena jasa penyewaan motor sangat kurang atau bahkan tidak ada di daerah ini.



Pusat perbelanjaan
Tradisional yang besar: Pasar Karombasan, Pasar Bersehati, Pasar Segar Paal 2,
Modern : Mantos (Manado Town Square), MTC (Mega Trade Center), Mega Mall, Lippo Plaza, ITC (IT Center)
Kompleks ruko : Kawasan Mega Mas (yang punya pengusaha besar Manado Benny Tungka – rumahnya di dalam kawasan bersambungan dengan kantor pemasaran). Kalau Mantos dimiliki pengusaha besar Hengky Wijaya.
Sedangkan Mart yang lumayan punya cukup nama: Jumbo, Golden, Presiden Roberta, Fresh mart, Multi Mart, Singapura (toko roti yang lumayan banyak variasinya dan harga terjangkau (pemain lama), Hypermart,  sedangkan Alfa Mart dan Indo Mart masih tebilang minim market share.



Gaya Hidup
Untuk gaya hidup fashionable merupakan pola umum mayoritas masyarakat Manado. Ada yang mengatakan lebih baik kalah makan daripada kalah gaya. Bagi sebagian besar penduduk kota ini akan sangat memperhatikan masalah pakaian maupun gadget. Frekuensi berbelanja dan kepadatan pusat perbelanjaan akan peak pada akhir Desember (menjelang Natal dan Tahun Baru).



Kehidupanpun cukup bebas. Banyak kamar kos-kosan yang dihuni pasangan muda-mudi. Ada beberapa alasan yang cukup mengemuka ketika ditanya mengapa mereka (pasangan) tinggal sekamar, mulai dari mensiasati kebutuhan ekonomi (uang sewa bisa dibagi dua, sangat membantu bagi karyawan yang mempunyai gaji pas-pasan ataupun mahasiswa/i, keseharian berhemat (makan, minum) dll) dan tentu saja hasrat biologis. Wacana keseharian pertengkaran didominasi oleh masalah bahugel (berhubungan gelap) munculnya orang ketiga.



Pertumbuhan dan munculnya pasar kerja di beberapa tempat (Manado-Bitung) yang kurang dapat dipenuhi oleh tenaga kerja lokal menyebabkan banyaknya tenaga kerja luar daerah mengisi pos-pos kerja yang kosong dengan penghasilan yang lumayan. Oleh karena interaksi itu maka dengan mudahnya ditempat umum kita menemukan pasangan pemuda yang berasal dari daerah-pulau yang padat dengan pemudi Manado-Minahasa yang terkenal ehem-ehem “cantik – putih – modis” mirip Bandung lah. Tentu para pekerja luar daerah ini diuntungkan karena untuk mendapatkan pemudi tipe sejenis di daerah asal mereka tergolong sangat sulit, kompetisi tinggi bahkan suplainya sangat minim yang susah mereka dapatkan atau mereka harus berkantong sangat tebal untuk mengajak pemudi serupa untuk jalan.




Otomotif & Media Cetak & Properti
Untuk penyuplai moda transportasi Toyota dan Yamaha disini disediakan oleh PT. Hasjat Abadi distributor Sulteng-Sulut, Maluku, Papua. Tetapi Mitsubishi tetap disuplai Bosowa (perusahaan yang berasal dari Sulsel).



Pasar media cetak dikuasai Manado Post yang merupakan kelompok Jawa Pos. Kompetitor mulai bermunculan khususnya grup Kompas yaitu Tribun Manado serta grup lainnya yaitu Koran Sindo meramaikan kompetisi media cetak di Sulawesi Utara.



Pertumbuhan sektor perumahan – pemukiman kota ini untuk tahun ini dan beberapa tahun kedepan berlokasi di dekat Bandara terutama kelurahan Paniki - Kec. Mapanget. Jika anda ingin berinvestasi kiranya lokasi tersebut tepat untuk anda perhatikan dengan serius.



Tempat Wisata
Selain wisata kota, pemandangan alam anda bisa kunjungi Bunaken (international tourist destination), Pantai Malalayang, Danau Linauw (Lahendong-Tomohon), Bukit Kasih, Bukit Doa, Pasar Ekstrem (Tomohon), Danau Tondano (Tondano), Danau Moat (Kotamobagu), Tangkoko (Bitung), Kerajaan Kaidipang (Bolmut), Pulau Gangga (Minut), dan sebagainya.  


Kota ini dan beberapa kota lainnya (Tomohon, Tondano dll) lebih meriah anda kunjungi pada akhir tahun – bulan Desember (Natal dan Tahun baru). Lihat saja kemeriahan warga sekitar Boulevard Tondano di awal tahun, mereka naik kendaraan dengan membuka Kap belakang mobil dan duduk di situ. Terkadang bagian kursi tengah mobil kosong dan padat pada area bagasi. 

 





Harapan semua orang tidak terkecuali backpackers ialah agar harmoni keberagaman SARA terutama Agama terus terpelihara dan terawat serta terjauhkan dari aktor-aktor yang mengambil keuntungan ekonomi politik dari kondisi konflik sehingga kedamaian terus tercipta di bumi Nyiur melambai ini.
Backpakers….enjoy Manado - Sulut 



Keywords: #Manado #Wisata #Backpaker #ceritakeseharian