Pages

Contoh Tema dan Program KKN bidang politik dan hukum


Contoh Tema dan Program KKN bidang politik dan hukum

a respon from a question



Biasanya suatu program KKN di suatu institusi pendidikan telah dilengkapi dengan manual book atau buku pedoman mengenai tema program apa saja yang menjadi sasaran terlebih KKN bermodel tematik. Karena hubungan Universitas dan Pemerintah begitu dekat maka program-program yang direncanakan biasanya seputaran mem back-up program pemerintah baik pusat – daerah dan menjembataninya ke masyarakat salah satunya dengan program KKN sebagai wujud tridarma pendidikan. Ideal dan normatifnya mahasiswa sebagai agen/aktor  institusi pendidikan dan pemerintah, oleh karena itu menutup ruang untuk kegiatan-kegiatan yang dianggap “mengkritisi pemerintahan secara berlebihan”. Dengan kata lain, mahasiswa KKN yang berdurasi singkat di masyarakat hanya melakukan peran-peran permukaan yaitu pemolesan-pemolesan.


Program KKN bidang politik dan hukum sebenarnya merupakan program yang relatif lebih rumit dibandingkan dengan yang bersifat fisik seperti pemeriksaan gigi, layanan kesehatan, membangun gapura, penambahan buku mengaji, menjadi guru di SD dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang akan ditemui tidak memulai pengetahuan dan praktik politik dan hukumnya dari 0 (nol). Dalam masyarakat telah terkonstitusi bentangan kejadian-kejadian/peristiwa-peristiwa khas daerah mereka serta informasi yang ditelan dari media elektronik dan cetak.




Tetapi hal tersebut biasanya disiasati sesuai kepentingan masing-masing individu peserta KKN yang berorientasi pragmatis. Hal tersebut rasional dikarenakan simpulan pada akhir pragraf pertama diatas yaitu kegiatan permukaan dan pemolesan, disamping pertimbangan teknis seperti kondisi SDM+M (Sumber Daya Manusia (kapabilitas, keharmonisan, psikologis, working team, pihak luar dan sebagainya +Modal),  kondisi cuaca, waktu/durasi dsbnya.




Dalam hal peserta KKN biasanya lintas fakultas dalam bahasa kerennya interdisipliner. Interdisipliner biasanya dimaksudkan agar para mahasiswa tidak terkungkung pada disiplin ilmunya/ekslusifitas untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang eksis dimasyarakat atau dengan kata lain down to earth. Interdisipliner juga dapat diartikan saling melengkapinya skill team KKN yang dipecah dan disebar kebeberapa lokasi (urban-suburban-rural).




Biasanya para program planner dalam membuat suatu tema – program / aktivitas memakai logika deduktif dengan pra-kondisi yang dibayangkan ideal. Program-program umum dengan menjauhkan pembacaan realitas yang berada di lokasi KKN. Setelah berada di lokasi KKN, modifikasi program biasanya dilakukan sesuai dengan realitas yang dihadapkan. Sedangkan model induksi bisa juga digunakan (sesuai dengan kebijakan masing-masing institusi). Model induksi biasanya dilakukan setelah mahasiswa berada dilokasi kemudian melakukan observasi langsung realitas dan membuat program-program. Dikotomis dual-modes (Deduksi-Induksi) tersebut bukan hal yang kaku atau statis tetapi dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan. Faktor geografis-demografis juga mempengaruhi misalkan tingkat partisipasi daerah pedesaan cenderung lebih kooperatif walaupun bukan kebenaran universal, faktor kependudukan dengan sistem nilai-moral yang hidup juga turut mempengaruhi (faktor sosiologis).




Grand tema politik dan hukum sesuai dengan konteks perencanaan nasional dan kondisi internasional (program internasional) biasanya diseputaran good governance. Good governance baik yang diprogramkan pemerintah maupun lembaga internasional (UNDP). Prinsip Good governance meliputi akuntabilitas, transparansi, partisipasi masyarakat, kepatuhan aturan hukum,  responsive/ daya tanggap melalui jalinan komunikasi, efektif dan efisien, equity-inclusive/berkeadilan –inklusif.



Prinsip-prinsip umum tadi sekaligus mendekatkan gagasan kearah sistem demokratis menjadi pilihan-pilihan utama bagi institusi pendidikan dalam menterjemahkan program. Pesera KKN menurunkan prinsip-prinsip tersebut kearah program kerja di lokasi masing-masing.



Dari pengalaman penulis, karena kondisi rekan tim beragam maka persoalan yang dihadapi pun beragam. Biasanya muncul dikotomis (exact-social) yaitu mahasiswa sains dan sosial. Perbedaan ini bukan hanya menjadi perbedaan studi dan kemampuan tetapi juga perbedaan cara berpikir/logika berpikir dimana biasanya teman-teman eksak sesuai dengan sistematisasi pola pemikiran yang dibentuk di institusi pendidikan bahwa hasilnya selalu pasti dan komponen-komponennya sama/universal. Sedangkan bagi ilmu sosial politik hasil dapat beraneka ragam tetapi yang penting adalah proses menuju hal tersebut dimana pertimbangan prinsip-prinsip program, setting agenda, konteks perpolitikan lokal, konteks sosiologis masyarakat dan sebagainya turut mendeterminasi/mempengaruhi.  Tetapi dari proses komunikasi melalui diskusi atau pemaparan argumen secara intens akan membuka proses kesepahaman baru yang menambah social life experiences para peserta. Diskusi juga merupakan sarana belajar untuk mengukur seberapa sempit-luas cara berpikir kita.




Pola yang paling umum dari program-program biasanya berupa sosialisasi-penyuluhan misalkan prinsip transparansi diterjemahkan dalam program sosialisasi Undang-Undang no.14/2008 tentang keterbukaan informasi publik. Program Peningkatan kesedaran Hukum dan HAM melalui sosialisasi-sosialisasi ataupun seri diskusi grup. Penguatan Gender dalam proses politik. Memperhitungkan aspek lingkungan dalam industri dan pembangunan. Penguatan stabilisasi keamanan dengan kerjasama holistic (masyarakat-kepolisian-organisasi). Pelatihan jurnalistik, literasi media dan sebagainya.





Untuk menghindarkan anekdot yang biasanya terjadi dilapangan “program dewa” (misalnya program perakitan  komputer padahal masyarakatnya dalam mengoperasikan komputer semisal program office word saja belum faham) baiknya melakukan observasi kecil dahulu tentang pengetahuan apa yang sepatutnya diberikan sekaligus mahasiswa/i belajar kearifan lokal. Hal ini juga menghindari adanya pembuatan program kerja semisal sosialisasi yang pada hari H berpeserta sedikit dan tidak antusias lain halnya dengan program fisik semisal pemberian layanan kesehatan dan obat secara gratis yang hampir pasti ramai. Hal ini juga dimaksudkan agak masyarakat tidak diperlakukan sebagai objek yang memulai pengetahuan dari nol tetapi sebagai subjek yang telah memiliki gugusan pengetahuannya sendiri.




Untuk program politik, dengan menurunkan prinsip partisipasi/participatory maka program kerja semisal membuat kerjasama dengan organisasi lokal (pemuda, karang taruna, pengurus mesjid/rumah ibadah lainnya, PKK, organisasi lingkungan dan sebagainya) peserta KKN dapat membuat program kerjasama berbasis aktivitas yang pelaksanaannya tidak dalam satu waktu saja semisal dalam sosialisasi. Tetapi programnya dapat dilakukan berperiode misalnya 2x dalam seminggu dengan hasil/hasil/output-outcome yang telah dirembukkan bersama lokal organisasi tersebut. Sedangkan teknisnya juga harus melalui prosesi rembuk/musyawarah dengan pihak yang dijalinkan kerjasama. Diskusi-diskusi ringan juga dapat menjadi alternatif program.




Politik tidak semata berbicara mengenai pemilihan daerah, partai2 dan sebagainya tetapi lebih luas menemukan ruang-ruang dimana kerja-kerja dapat memberikan sumbangsi kepada kehidupan yang lebih baik. Politik tidak bermakna negatif seperti model yang diperlihatkan aktor politik daerah-nasional yang tidak menjiwai essensi politik hanya berbasis kepentingan sehingga politik menjadi kotor ditangan mereka. Politik bukan pula mirip logika ilusi slogan Mario Teguh yang seolah-olah dengan berbicara, bersabar, berbaik budi dunia akan lebih baik. Tetapi melihat kondisi/realitas sosial dan melakukan kerja/aktivitas yang sesuai konteks. Dengan kata lebih fokus dan serius dalam melihat realitas sosial seperti kemiskinan dan sebagainya ketimbang mempersoalkan psikologi diri sendiri dalam memainkan pernyataan2 sempit di otak dan menawarkan ke orang lain seolah2 menjadi  truth yang harus di-ikuti/dipatuhi.



Dalam hal ini segala aspek menuju kebaikan bersama adalah bersifat politis. Untuk menjembatani disiplin ilmu sains misalnya kimia, prinsip partisipasi dapat diturunkan kearah program. Misalnya jika ada industri kecil didaerah tersebut maka para mahasiswa kimia dapat bersumbangsih dengan pengetahuan yang dianggap penting untuk pengembangan ataupun manajemen kontrol industri tersebut.  Lebih zoom in lagi, mahasiswa bisa menganalisa limbah industri, lingkungan dan mengadakan seri diskusi-diskusi/sharing sekaligus melekatkan aspek hukumnya dengan berkolaborasi atau mencari informasi aturan hukum mengenainya.  Misalnya industri rumput laut yang seperti kita ketahui bersama berperan dalam sektor kosmetik,farmasi, makanan dan sebagainya, mahasiswa bisa menganalisa proses apa yang kurang dari proses yang sedang berjalan di daerah tersebut yang bisa meng-upgrading produk mereka misalnya jenis larutan perendaman dan sebagainya. Bagi mereka yang melihat poitik secara sempit akan pesimis program tersebut bukan program politik. Tetapi dasar argumen kita bahwa program tersebut merupakan program turunan dari prinsip partisipasi politik internasional dan nasional yang bertujuan membantu kehidupan yang lebih baik baik dalam hal ekonomi politik maupun sosial politik.





early warning, sesuai dengan pengalaman penulis pada 2007 lalu di sebuah desa, bahwa para partisipan KKN tidak jarang ikut arus dalam proses perpolitikan lokal terlebih ditentukan areal lokasi tinggal atau afiliasi kerjasama. Misalnya kepala desa/lurah dipastikan sebagai mitra strategis peserta KKN tetapi harus di ingat bahwa perpolitikan desa/scope kecil secara model sama dengan kondisi perpolitikan skala besar (pro/pendukung-kontra). Akan lebih baik jika para partisipan KKN membaca gugus lokal tersebut walaupun menjadi netral hampir tidak dimungkinkan tetapi mengurangi persentase ikut arus selalu dimungkinkan.





Akhirnya, karena penulis lapar….heheee… KKN merupakan ajang sosialisasi dan mengenal problematika di masyarakat secara Nyata, berlatih bekerja secara tim, mengupgrade potensi individu dan tidak berpikir elitis tetapi down to earth ber-empati sosial dan sekaligus menambah erat pertemanan. Modifikasilah program sesuai konteks dan perhitungan realistis seperti tenaga. Bersosialisasi, bekerja dan nikmatilah. Sungguh KKN menyenangkan ..selamat ber KKN, KKN juga dapat menjadi ajang latihan dan bisa jadi objek penelitian akhir anda dan jangan lupa, anda membawa Almamater anda.







maaf sebelumnya..tulisan ini tidak lengkap dan sangat pendek dalam mengurai fenomena





















di suatu kamar kecil di Jogja, 1 Juni 2013

Sorry agak liberal…. hehee :D






No comments:

Post a Comment