Pages

Membaca “Kekerasan” terhadap perempuan dalam berbagai perspektif


Membaca “Kekerasan” terhadap perempuan dalam berbagai perspektif


Kekerasan terhadap perempuan merupakan suatu kondisi yang terus berlanjut dan membutuhkan advokasi terhadap permasalahan ini. Pertanyaan dasar yang sering kali muncul ialah “kenapa kekerasan terhadap perempuan terus berlanjut ??” walaupun seperti kita ketahui “kekerasan (fisik dan non-fisik/verbal-non verbal)” dalam hal ini terjadi pada setiap manusia tergantung dari posisi subordinasinya misalkan kekerasan pada anak, kekerasan pada siswa, kekerasan pada bawahan, kekerasan pada pekerja/buruh/pembantu rumah tangga, maupun kekerasan negara terhadap rakyat miskinnya. Untuk membantu menganalisa reproduksi “kekerasan” khususnya pada perempuan maka kita dapat melihat dengan perspektif di bawah ini.



Perspektif Marxian

Marx memberikan pengetahuan yang sistematis dari bentangan sejarah dan dialektika material. Pada dasarnya “kekerasan” mempunyai struktur dasar yaitu subordinasi. Adanya pihak yang mengordinasi dan disubordinasi, pihak yang secara hirarki “lebih” dari yang lain (kuat-lemah, berkuasa/berwenang-kurang berkuasa/berwenang dan sebagainya). Dalam hal ini diibaratkan antara borjuis dan kelas pekerja, perjuangan kelas. Dalam hal ini perspektif marx membagi sejarah terdiri dari 5 epoch (periodesisasi waktu) yang ditandai berubahnya mode produksi yaitu komunal primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme.



Kekerasan muncul pertama kali dalam masyarakat komunal primitif ketika suatu kelas menghasilkan  kelebihan produksi, dan selanjutnya menimbulkan keinginan kelompok/kelas lain untuk mengambilnya/mendominasinya/mengsubordinasinya. Kekerasan yang bermotif ekonomi pun terus berlangsung dalam periode berikutnya sampai kelas dizaman kapitalisme. Untuk mempertahankan hegemoni kapitalisme yaitu melakukan imperialism baik melalui invasi politik, ekonomi dan militer.



Dengan meminjam analisa kelas ini, maka dapat dikorelasikan bahwa sistem kekerasan pada perempuan khususnya dikarenakan kelas perempuan berada pada keadaan tersubordinasi. Apa yang dilakukan kelas dominan untuk mempertahankan struktur tersebut ialah menciptakan sistem, dalam hal ini sistem yang mempengaruhi  basis (ekonomi) maupun pemikiran, politik (suprastruktur) seseorang. Konsepsi infra/basis – suprastruktur ini memberikan pengetahuan bahwa motif ekonomi mempengaruhi tindakan/pilihan seseorang. Semakin tinggi kondisi ketergantungan seseorang/kelompok terhadap orang/kelompok lain maka semakin rawan varian kekerasan yang akan diterimanya. Jadi yang terpenting yang ingin ditekankan ialah bukan hanya analisa berfokus pada keadaan subjek-objek tetapi pada struktur/sistem yang memungkinkan eksploitasi itu berkembang biak mengkooptasi kesadaran subjek-onjek terkhusus dalam hal ini berkembang sangat pesat di bawah struktur kapitalisme. Kapitalisme memproduksi gaya hidup untuk kepentingan berlangsungnya aliran uang ke kelas tertentu ataupun beragam struktur negara sampai masyarakat dimana logika materi dan need for achievement menjadi sendi gerak yang melekat kuat pada pemikiran manusia pada umumnya (mainstream).



Simulasi : dengan menggunakan determinisme ekonomi. Subordinasi negara kuat terhadap negara lemah (mendapatkan afirmasi dari negara lemah karena ketergantungan ekonomi, ataupun apparatus negara yang ingin memakan remah roti dari meja penguasa atau ketakutan kehilangan pendapatannya). Subordinasi majikan terhadap pembantunya, dengan rasa majikan mempunyai “hak” karena ketergantungan pembantu dari sisi ekonomi, maka ia memperlakukan pembantu semaunya.


Dalam ber “pasangan  A dan B” motif ekonomi menjadi dasar memilih pasangan, A akan mempertimbangkan pasangan B berdasarkan peluang-peluang ekonomi dan begitu sebaliknya. Dalam hal ini jika kita melihat subjektif dan bertanya secara subjektif maka orang yang dikenai pertanyaan akan menolak sedemikian rupa dalam pengucapannya. Hal ini dapat dimengerti karena pengucapan mengandung unsur-unsur “performatif” dan kalaupun anda bersikeras bahwa anda tidak melihat sisi “ekonomi” seseorang dalam membina hubungan jangka panjang, pilihan dalam proyeksi peluang ekonomi tetap ada dalam pikiran anda walaupun dalam skala yang lebih kecil. Ini mirip gerakan peristaltic, walaupun tubuh anda dibolak-balik sedemikian rupa, otot-otot pencernaan akan menyedotnya masuk akibatnya makan/minum dalam berbagai posisi akan tetap masuk. 



Jadi determinis ekonomi tersebut apabila si A mengetahui secara sadar bahwa si B ketergantungan ekonomi dalam hal ini, maka konsekuensi yang dapat berujung pada kekerasan (verbal/non verbal) terhadap si B makin terbuka. Sikap B pun dalam keadaan ber affirmasi akibat ketergantungannya terhadap A. 



Ataupun mempertahankan jalur kekayaan status quo: Mertua yang memilih pasangan anaknya berlatarkan profesi dan penghasilan (income nya). Kenapa hal ini dengan gampang di temukan ?, karena  logika hidup ala kapitalisme (untung rugi, peluang, gaya hidup dsb) menjadi mainstream di kehidupan manusia. Tetapi ini anda bisa singkirkan ketika anda mengetahui seluk beluk dari kondisi mainstream tersebut dengan kata lain berada pada kesadaran murni bukan pada tahapan false consciousness.




Perspektif Postmodernisme – postStrukturalisme - psikoanalisa

Dalam foucault konteks subordinasi ini merupakan suatu konstruksi wacana dominasi. Pengaturan tubuh individu terdapat dalam politik-anatamo dan bio-politik. Diskursus dikotomi biner “normal” –“menyimpang” menjadi suatu kuasa atas pemikiran. Wacana dominan membentuk kesadaran mainstream. Komodifikasi tubuh dilakukan dalam masyarakat modern untuk kepentingan-kepentingan tertentu misalnya ekonomi dan sebagainya. Fetishisme tubuh dilakukan untuk mengembangkan narsisme tingkat lanjut yang berujung pada naiknya konsumsi pada produksi. Selanjutnya baik perempuan dan laki-laki berada pada komoditas.



Dari hal diatas terdapat kandungan bahwa pengetahuan mainstream (episteme) dalam hal ini yang berlaku mengkonstruksi pemikiran atas komodifikasi tubuh. Terlebih jauh jika dilihat bahwa hal ini nantinya yang akan membentuk selera-selera dari masyarakat itu. Peran sosial terhadap wacana umum yang berlaku ini sangat besar dalam pembentukan pola pikir.



Konstruksi wacana  misalnya (menggunakan tema yang umum) sejauh mana penurunan makna dalam konsepsi “cinta” dalam kehidupan modern sekarang ini. Ketika orang-orang mengucapkan atau menyinggung cinta terkonstruksi “pacaran/hubungan 2 insan”, mengilangkan substansi dan essensi dari kata itu sendiri, misalkan mencintai Tuhan, agama, keluarga, orang miskin, keadilan, alam dsbnya. Konstruksi wacana dominan ini dapat di counter (istilah Gramscian) maupun di dekonstruksi (melepaskan konstruksinya, istilah yang dipopulerkan Derrida).



Simulasi: Kemampuan modern dalam membuat kesamaan perilaku “selera” misalnya dalam tubuh yang diatas disebut “fethisisme” tubuh. “Wanita cantik” dengan berbagai iklan di disimbolkan dengan langsing dan berbagai standar-standar lainnya. Di Indonesia belakangan ini ditambahkan simbol-simbol penunjang ialah kawat gigi :D. Wacana ini menjustifikasi dan melakukan propaganda-propaganda narasi life style bahwa sadarnya “wanita itu ingin selalu cantik/laki slalu ingin gagah,macho (maskulin)” dan kemudian yang menjadi permasalahan ialah usaha untuk menstandarisasinya/menseragamkannya melalui berbagai macam cara terutama jejaring TV dan sosial lainnya memproduksi “kecantikan massal/narsistik/performatif” untuk mendukung produk jualannya. Ataupun prestise sosial dari memiliki sesuatu. Pembentukan gaya hidup ini yang menjadi dasar gerak manusia.



Tidak hanya efek ekonomi bahwa wacana ini memperngaruhi mindset (transformasi ide), yang ujungnya terparah adalah kesibukan manusia pada hal-hal yang bersifat performatif dan segala sesuatunya yang gampang tercap sebagai budaya populer,  akibatnya tidak lagi melihat situasi secara substansi dan kritis. Sebutlah makin banyaknya kelas-kelas kepribadian "menjadi seorang bisnissman sejati".  Menjerumuskan pada kesadaran massal dan palsu. Produksi simbol-simbol ini lebih lanjut di bahas oleh Baudrillard, value-sign merupakan konsepsi Baudrillard dimana para kapitalis membuat fungsi simbol pada benda-benda, akibatnya sebuah benda/komoditas tidak hanya kehilangan fungsi pakai maupun pertukurannya tetapi menjadi standar "high low" dari sebuah persepsi komunitas. Arus budaya lintas negara seiring dengan eksport kekerasannya dan pembentukan budaya hibrid kemudian dapat dianalisa dalam perspektif post-kolonialisme.




Simulasi: Memakai contoh yang mainstream. Ketika selera berubah (terbentuk oleh diatas) maka substansi menipis. Sebutlah seperti pasangan A – B, ketika  terbentuknya selera A (seperti diatas) yang kemudian melihat B tidak sesuai lagi dengan “standard selera" barunya maka jalur untuk masuknya kekerasan (verbal/non verbal) terhadap si B sangat terbuka. Dengan alih-alih kondisi yang memanipulasi  dan melindungi berubahnya “selera tersebut” maka perilaku-perilaku yang sebelumnya jarang terjadi itupun terjadi melupakan substansi dasar “berpasangan”. Karena ketergantungan si B, maka ia berada dalam posisi affirmasi terhadap perilaku berubah tersebut. Akibatnya B akan terus menerima "kekerasan".


Dalam membaca unconsciousness mindset selanjutnya dapat melihat analisa Bourdieu dalam termin habitus dan kekerasan simbolik. Habitus merupakan sebuah sistem ketidaksadaran dari presepsi dan disposisi yang bertindak sebagai mediasi struktur dan tindakan. Suatu reproduksi dari sosial kultur dominan sekaligus menjadi prinsip struktural. Pelaku/agent dipengaruhi oleh  disposisi akibatnya habitus tadi menjadi modus operandi. Para agen kekerasan akan melakukannya karena konstruksi sosial dan sesuatu yang membentuk dirinya, sekali melakukan kekerasan maka terus akan berulang-ulang, menjadi modus-modusnya.  Kekerasan simbolik (symbolic violence) merupakan kekerasan yang dimana korbannya menyetujuinya. Kekerasan simbolik ini terjadi dalam suatu sistem subordinasi dimana seseorang mempunyai kewenangan/kuasa terhadap yang lainnya.




Hal ini dapat membantu dalam melihat fenomena selanjutnya mengenai kekerasan. Sebagai reproduksi sosial dari latar belakang dan sebagainya yang berakibat bagi seorang “agen/subjek” yang “gemar” melakukan kekerasan (verbal/non-verbal). Dengan pola-pola yang sama dan berulang akan melakukan modus operandi. Dalam hal ini membantu analisa melihat sebab reproduksi sosial tersebut dan prilaku si agen/subjek.



Simulasi kekerasan simbolik: Seorang dosen dan mahasiswa, sebagai seorang mahasiswa akan “rela” “menyetujui” apabila ada sikapnya yang dinilai oleh si dosen menyalahi aturan kampus ataupun aturan non formal kebiasan si dosen. Ketika mahasiswa diberi kekerasan (verbal/non verbal) maka mahasiswa tidak melihat dosen dalam posisi menyerang tetapi menyalahkan dirinya atas situasi yang ia dapatkan. Dalam hal ini korban menyetujui atas simbol yang melekat pada dirinya dalam suatu sistem. Tuan dan buruh, sebagai simbol “pegawai” maka ia akan menerima kekerasan dari si Tuan dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpanya. Guru yang melakukan kekerasan terhadap siswanya di sekolah. Program  media TV yang secara implicit mengandung kekerasan simbolik. Hal ini sifatnya membangun pola pikir memperparah struktur mindset.



Simulasi : Contoh paling mainstream, melanda dua insan dalam berpasangan “pacar”. Jika terjadinya kesepakatan (sifatnya sangat lemah) dan kemudian ke dua insan setuju untuk menamakan dirinya “pasangan”. Si A akan memberikan “aturan-aturan” yang merupakan kontrak sosial dimana apabila si B melanggarnya akan diberikan sanksi berupa “kekerasan verbal/non verbal”. Si B yang melakukan pelanggaran aturan tadi akan dikenai sanksi dan B dalam posisi menyetujinya kemudian menyalahkan dirinya, tidak mampu lagi melihat rasionalitas yang ia bangun sebelumnya karena diselimuti kabut ilusi. Kesemuanya ini merupakan simpul-simpul kesadaran palsu dan mereproduksi kekerasan dengan varian yang beragam. Dalam hal ini masculine menempati posisi yang mendominasi feminism, istilah psikologi lebih lanjut Intimate Partner Violence (IPV) yang betul-betul merusak jiwa serta mental bagi si objek kekerasan.




Dalam psikoanalisa Freud. Freud merupakan salah satu tokoh populer dalam pengetahuan psikoanalisa, sampai sekarang teorinya tetap exist dan dikembangkan dalam ilmu psikologi. Dalam melihat struktur kepribadian agen misalnya, terdiri atas 3 lapisan id, ego dan superego. Dalam melihat defense mechanism dikenalnya sublimasi, denial, regresi, rasionalisasi dan sebagainya. Untuk kebutuhan analisis kekerasan ini maka akan meminjam tulisan Freud tentang hysteria. Hysteria di diagnose sebagai sebuah idea/memory yang membuat seseorang sakit, gejala yang exist dari sebuah bekas. Kekerasan pada masa kecil membuat bekas yang mendalam dan terbawa hingga tahap-tahap selanjutnya yang membentuk trauma. Bentuk penyimpangan lainnya yang menggunakan kekerasan sexual seperti masochism yaitu agen yang menikmati sensasi “pleasure in pain” dan sadism.  Untuk mengobatinya dibutuhkan suatu therapy psikologis.




Dalam psikoanalisa Lacan mengenai jiwa terdapat tiga bentuk : imaginary, symbolic dan real. Untuk fenomena remaja dengan prilaku sex bebas dapat meminjam konsep ilusi Lacan, bahwa hal yang mustahil mencari “love/cinta” melalui sexualitas. Hal yang tidak mungkin untuk menggunakan tubuh untuk menyembunyikan emotional pain. Dalam menjelaskan struktur kekerasan, adalah hal mustahil/tidak mungkin untuk menyembuhkan perasaan sakit hati/luka dengan menggunakan tubuh/fisik dan jiwa  orang lain untuk merasakan penderitaan kerusakan perasaan seperti yang kita alami. Kekerasan dalam hal balas dendam ataupun mentransformasikan rasa sakit dan benci kepada orang lain dalam hal ini adalah sesuatu yang sia-sia dan ilusif. Lacan merupakan tokoh populer dalam bidang psikoanalisa selain Jung yang beranggapan bahwa "back to Freud" yang dimaksudkan Freud yang muda dengan berbagai karya menarik. Aliran Lacanian ini menjadi 2 terbesar (dari segi pengguna pengetahuan) setelah aliran Freudian.



Perspektif Feminisme

Feminist memberi analisa terhadap dunia yang dalam sejarahnya ditulis oleh superioritas dunia androsentrisme. “Gender”  disebutkan sebagai termin/istilah yang mendapatkan konstruksi. Terkadang pengertian dan ucapan  kata “gender” dengan “sex/jenis kelamin” mengalami tumpang tindih dalam pemaknaan maupun pengucapan. Secara sederhana yang dapat menjadi pembedaan yaitu “sex/jenis kelamin” berhubungan dengan determinisme biologi, fungsi-fungsi biologis yang terdapat di tubuh manusia yang membedakan tegas antara laki-laki dan perempuan sedangkan termin “gender” merupakan suatu konstruksi sosial menjadi dikotomi kata “feminism” dan “maskulinisme” yang melekat pada jiwa penggunanya.  Perspektif feminism dalam perkembangan banyak terpengaruhi pemikir-pemikir yang dijelaskan diatas.



Maskulinitas yang dikonstruksikan sebagai penggambaran laki-laki misalnya aktif, tegas, keras, berotot, kuat, superior, kekar, berpikir dengan logika egois, dan sebagainya. Sedangkan narasi feminism yang mengkonstruksi perempuan di ibaratkan pasif, lemah lembut, sabar, terlalu menggunakan perasaan dan sebagainya. Diskursus Maskulinitas dan feminis ini terus di repetisi oleh pengetahuan modern dengan empirismenya dengan membuat “standarisasi narasi” bagi prilaku manusia terutama campaign by media dengan advertisement and contest. Komodikasi tubuhpun dilakukan para produsen untuk menegaskan seperti pada contoh foucalt diatas. Akibatnya perilaku maskulin mengsubordinasi wanita/ melakukan kekerasan merupakan hal yang normal dan natural.



Beauvoir menolak ide Freud bahwa maskulinitas, libido merupakan suatu konsepsi natural. Beauvoir menganggap bahwa terdapat korelasi sosial yang mengkonstruksi pribadi-pribadi bukan pada superioritas anatomi. Irigaray berpendapat konstruksi diskursus tersebut merupakan hubungan actual dari dominasi dan subordinasi yang berkharakteristik politik barat, masyarakat, sejarah, literature dan hukum.



Dalam buku Jones aliran feminism dibagi menjadi Feminism Liberal yaitu feminism yang menginginkan emansipasi berupa hak equal di institusi/perwakilan agar dapat memperjuangan perlawanan diskriminasi dan kesetaraan dalam ranah parlementer (tokoh: Ann Oakley). Feminis Marxis yang mengambil analisa Marxian dalam membedah struktur ketimpangan dan diskiriminasi terhadap perempuan (tokoh: Michelle Barret). Ada juga yang menyebutkan kelompok ini termasuk dalam pendekatan Agonistic Feminism dengan pendekatan Gramscian, Mouffe dan Laclau, ini bisa dilihat dalam karya Hannah Arendt.



Feminisme Radikal yang begitu getol menganalisa struktur patriarki sebagai pusat subordinasi dan segala lainnya yang dianggap “normal dan seharusnya” (tokoh: Kate Millet, Shulamith Firestone). Feminisme Anti Essensialis yang menolak dipersamakannya semua yang bernama “perempuan” sementara diskriminasi terjadi di dalamnya antara perempuan berkulit putih, berwarna dan hitam, menamakan mereka yang mempersamakan dengan nama ”gender blind”. Feminist post-strukturalis mendorong dekonstruksi penggunaan “perempuan” dalam analis feminis, mendorong agar feminis tidak mengalami perpecahan dalam menerjemahkan fenomena dengan kaku tetapi tetap perempuan menjadi sentralitasnya dengan keanekaragaman menjadi kekayaannya (tokoh: Judtith Butler).



Dari penjelasan diatas tentang kekerasan secara garis besar dapa dilihat sebagai berikut :

  • Analisis Marxian : membantu memahami struktur exploitasi dalam mendeterminasi perilaku agen/manusia. Determinisme Ekonomi dapat menjelaskan “kekerasan” yang dilakukan tanpa perlawanan karena ketergantungan faktor ekonomi/hidup. Analisa suprastruktur diperkuat oleh logika mainstream Kapitalisme dalam menciptakan termin zaman “modern” ternyata telah menginjeksi kesadaran manusia menjadi kesadaran palsu, dimana efek performatif, kesenangan, life style menjadi “standar” manusia modern akhirnya melahirkan dehumanisasi.

  • Foucault, deridda, baudrillard telah membantu menganalisa dan membedah apa yang dilakukan logika mainstream terhadap reproduksi diskursus (wacana yang bertendensi kekuasaan), memfethsisme tubuh sebagai komoditas jualan bagi Kapitalisme dalam pembentukan selera. Selain mengambil keuntungan ekonomi atas produksi, keseragaman meng injeksi kesadaran massal dalam keberhasilan mentransformasikan ide/gagasan modernitas, kecantikan dan simbol-simbol prestige hidup menjadi standar keyakinan dan implementasi gerak-gerak. Serangan budaya tak pelak lagi membuat budaya absurd dan hybrid dalam studi postkoloni. Ini kesemuanya merupakan pabrik-pabrik produksi “kekerasan”. 

  • Habitus, modus operandi membantu menganalisa kelakukan subjek (personal) dalam aksi melakukan kekerasan. Kekerasan simbolik membantu menjelaskan kondisi ketimpangan yang bermain dalam kewenangan. 

  • Fraud dan lacan merupakan tokoh penting dalam membangun psikoanalisis yang membantu memahami prilaku kejiwaan personal/agen baik dalam unscounsiusness maupun cara untuk melakukan perbaikan. Kekerasan akan melekat pada ingatan korban. Membantu menganalisa kejiwan berdasarkan prilaku seksual. 

  • Feminisme membantu melihat masalah dalam perspektif perempuan yang begitu beragam dari ketidakadilan yang mereka rasakan. Karena beragamnya dari pendekatan Feminisme itu sendiri, maka tidak mudah untuk melihat aliran mana yang dapat merepresentasikan satu suara bulat dari feminisme. Tetapi kesemuanya merupakan complementary, sifatnya saling melengkapi walaupun ada diantara mereka yang saling menyerang. Hal yang sederhana yang memungkinkan mereka untuk sepakat adalah diskursus (narasi dengan tendensi kekuasaan) "maskulinitas" dan "feminism" serta sejarah dunia yg tidak memihak kaum perempuan merupakan hal-hal yang bermasalah.



Dalam perkembangan selanjutnya para activist gender di seluruh dunia dan melalui organisasi-organisasi dunia bahkan sampai program PBB tidak hanya berkampanye persamaan dan kesetaraan tetapi kerja nyata untuk melindungi perempuan dari kekerasan, para korban dalam pengelolaan mental mengatasi traumatic, perlindungan anak-anak, pengobatan/konseling kepada korban kekerasan dan penyimpangan lainnya, lebih luas lagi gerakan perlindungan/perawatan/bimbingan terhadap pengidap HIV/AIDS dan gerak-gerakan mencegah perluasannya.



Kemudian untuk menjawab pertanyaan semula "kenapa kekerasan terhadap perempuan terus berlanjut ??” karena fenomena dapat ini tumbuh subur dan menjamur dalam kehidupan manusia dalam selimut logika mainstream Kapitalisme, terutama keberhasilan menglobalisasikan penyakit-penyakit mental dan jiwa ini dalam modus gaya hidup.  















Di suatu jogja

1 comment:

  1. I think your blog is great and if you do not mind you should always update your blog so that readers feel satisfied with your blog
    poker online

    ReplyDelete